Selasa, 04 September 2012

Perdebatan Kedua Perubahan dari Klasik Realisme dan Liberalisme Menjadi Neo-realisme dan Neo-liberalisme



Terdapat banyak perubahan dari liberalisme klasik hingga neoliberal. Liberal klasik sendiri menilai bahwa realitas manusia akan menjadi semakin kompleks dan kualitas manusia juga akan menjadi semakin baik.. Perdamaian menjadi syarat dari proses yang tidak dapat dihalangi, pencegahan perang menjadi mungkin, dan teori ini juga menganggap bahwa karena manusia memiliki akal pikirannya mereka dapat tiba pada kerjasama yang saling menguntungkan. Teori ini bertahan hingga akhirnya muncul pandangan baru yang disebut realis.
Munculnya realisme sebagai penentang dari teori Idealisme Liberal memberi warna tersendiri dalam studi HI. Pemikiran tentang realisme ini hidup di atas perdebatan-perdebatan dan mengalami perubahan-perubahan konsep, dari realisme klasik hingga akhirnya muncullah konsep baru yang biasa disebut neorealisme. Berawal dari konsep realisme klasik yang diprakarsai oleh Thucydides, Machiavelli, dan Hobbes yang menggagas nilai-nilai realisme sebagai suatu paham yang percaya bahwa kondisi manusia adalah kondisi yang tidak aman dan berkonflik yang harus diperhatikan dan dihadapi, terdapat pula sekumpulan pengetahuan politik, atau kebijaksanaan, untuk menghadapi masalah keamanan, dan masing-masing dari mereka mencoba untuk mengidentifikasikan elemen-elemen pokoknya, serta tidak adanya pelarian akhir dari kondisi manusia yang merupakan bentuk permanen kehidupan manusia. Mereka menganggap politik dan sejarah politik sebagai siklus sebab dan akibat yang prosesnya dapat dianalisa dan dimengerti, tetapi tidak mungkin dipengaruhi secara intelektual ( Budiono:1986 ). Konsep yang berkembang pada tahun 1930-1950-an yang memenangkan Great Debate Pertama ini diakui sebagai petunjuk paling baik dalam Hubungan Internasional karena terbukti benar adanya.
Setelah kemenangannya dalam Great Debate pertama muncullah perdebatan baru setelah perang dunia II antara tradisionalis dan behavioralis. Tidak ada pemenang dalam perdebatan kedua ini. Namun, terjadi evolusi behavioralis yang akhirnya melahirkan konsep neoralisme. Behavioralis yang menekankan teorinya pada fakta yang dapat diamati agar mendapatkan pola perilaku yang berulang pada ‘hukum-hukum hubungan Internasional ini didukung oleh para penstudi Amerika Serikat yang pada akhirnya membuka jalan bagi formulasi baik realisme maupun liberalisme yang sangat dipengaruhi oleh metodelogi kaum behavioralis.. Formulasi dari realis dan liberalis ini disebut neo-liberalis dan neo-realis.
Perubahan dalam liberalis menjadi neo-liberalis terletak pada penggunaan teori-teori dan pemakaian metode-metode baru yang ilmiah yang sebelumnya tidak digunakan dalam teori liberalis klasik. Selain itu neo-liberal juga menolak pandangan idealisme yang ada sebelumnya. Dalam teori neo-liberalis juga muncul cabang aliran-aliran liberal yakni liberalisme sosiologis, interdependensi, institusional, dan republikan. Walaupun memiliki konsep yang berbeda tentang liberalisme baru ini. Namun aliran yang berbeda ini saling mendukung dalam memberikan suatu argumen menyeluruh yang konsisten untuk Hubungan Internasional yang lebih damai dan kooperatif.
Sedangkan dalam neorealis ditekankan pada struktur sistem, pada unit-unitnya yang berinteraksi, dan pada kesinambungan dan perubahan sistem. Para pencetus neorealis seperti Kenneth Waltz menyebutkan bahwa bentuk dasar hubungan Internasional adalah struktur anarki yang tersebar di antara negara-negara. Negara-negara serupa dalam semua hal fungsi dasarnya. Pendekatan neoralis ini tidak menyediakan membahas pada sifat-sifat manusia seperti yang ada pada teori realis klasik, teori ini menekankan lebih pada struktur sistem. Noerealis juga mengilhami nilai-nilai yang bersifat lebih bersifat normatif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Your comment is my progress
So to leave some comment