Selasa, 04 September 2012

Latar Belakang Terjadinya Great Debate Dalam Hubungan Internasional



Semenjak awal berdiri hingga perkembangannya, ilmu hubungan internasional dibangun  oleh teori-teori yang terus berkembang bahkan dengan latar belakang pemikiran yang berbeda-beda. Perdebatan-perdebatan ini melibatkan berbagai perspective, paradigm, approach, worldview, general theory, image, general explanation, framework menurut perkembangan zamannya (zeitgeist). Ada tiga perdebatan besar (great debate) sejak HI menjadi subjek akademik di akhir perang dunia hingga sekarang, dan sekarang kita sedang berada pada tahap awal perdebatan besar yang keempat (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 45).
Perdebatan pertama adalah antara realisme dengan liberalisme utopian (idealisme). Perdebatan ini terjadi di tengah-tengah Perang Dunia 1. Kondisi internasional yang carut marut membawa kaum liberalis pada sebuah pemikiran bahwa upaya perdamaian dapat dicapai dengan membentuk sebuah collective power yang tercermin dari dibentuknya Liga Bangsa-Bangsa. Menurut kaum liberalis hal ini dapat menghentikan perang yang telah berlangsung. Namun kaum realis bepikiran bahwa perang yang tejadi adalah lebih karena sifat dasar manusia yang selalu ingin mengejar kekuasaan yang pada akhirnya sangat mudah menimbulkan agresi. Kaum realis menganggap bahwa pemikiran kaum liberal yang menyatakan bahwa perang dapat dihentikan melalui pembentukan Liga Bangsa-Bangsa guna menciptakan perdamaian dunia adalah suatu hal yang terlalu utopis. Hal ini dibuktikan dengan kegagalan Liga Bangsa-Bangsa dalam menjaga perdamaian dunia sehingga Perang Dunia 2 akhirnya pecah.
Perdebatan besar yang kedua terjadi antara pemikiran kaum tradisional dengan pemikiran kaum behavioral. Setelah perang dunia 2, disiplin akademik HI meluas dengan cepat khususnya ke Amerika (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 59). Badan-badan pemerintah dan yayasan swasta ingin mendukung penelitian HI ilmiah yang dapat mereka benarkan seperti dalam kepentingan nasional. Menurut Robert Jackson & George Sorensen (1999), hal ini dilakukan demi tercapainya perdamaian dunia dari pendekatan ilmu secara metodologis yang tepat dengan menggunakan data empiris tentang hubungan internasional. Behavioralis juga berusaha mengklarifikasikan, mengukur, dan memformulasikan hukum-hukum layaknya ilmu pasti seperti fisika atau kimia tanpa memberi ruang bagi etika moral dalam teori internasional. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pemikiran kaum tradisional yang melihat sebuah hubungan internasional dari hal-hal mendasarnya seperti ketertiban, kebebasan, dan keadilan (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 85). Pada akhirya tidak ada yang menang pada perdebatan ini, dan kedua metode tersebut digunakan dalam disiplin HI.
Dikombinasikannya konsep tradisional dan behavioral memunculkan aliran baru yaitu neorealis dan neoliberalis sebagai pengembangan dari mainstream terdahulu. Metode-metode ini kemudian ditantang oleh metode neo-marxis yang kemudian menjadi perdebatan besar ketiga. Inti dari perdebatan ini adalah dilandaskan pada ekonomi yang selama ini dianggap memegang peranan kedua dalam sebuah negara setelah politik (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 74). Pergerakan negara-negara dunia ketiga pada tahun1970an dan hegemoni Amerika yang telah ada semenjak perang dunia 1 dan kemudian mendapat tantangan dari Jepang dan Eropa Barat menjadi fokus utamanya. Analisis masing-masing metode mengenai upaya negara-negara dunia ketigalah yang menjadi topik utama dalam perdebatan besar ini. Singkatnya perdebatan besar ketiga telah menggeser isu-isu politik dan militer yang kemudian digantikan oleh isu-isu sosial ekonomi pada dunia ketiga.
Perdebatan besar kempat yang sekarang sedang terjadi adalah adanya pemikiran-pemikiran baru melihat dari kondisi internasional pasca perang dingin. Banyaknya isu-isu baru seperti lingkungan hidup, gender, penghapusan ras, dll dinilai oleh penganut aliran alternatif tidak dapat dijelaskan oleh metode terdahulu yaitu neoliberal dan neorealis (Robert Jackson & George Sorensen, 1999). Metodologi-metodologi juga kembali dipertanyakan oleh penganut aliran alternatif ini sebagai bentuk serangan pada teori yang telah mapan. Singkatnya, perdebatan keempat ini juga mencoba menggiring dan menunjukkan arah disipin akademik HI yang lebih sesuai dengan hubungan internasional pada milenium baru dengan tidak hanya sekedar berkutat pada politik, militer, dan ekonomi sebagai bahasannya (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 80).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Your comment is my progress
So to leave some comment